erva kurniawan 1:03 am pada 29 Oktober 2012 Permalink | Balas | Ikuti

Syeikh Abdul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman Allah: “Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, mereka yang khusyu’ dalam shalatnya”.(Q.s. Al Mu’minun: 1 2)

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sekecil biji sawi.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka berpakaian bagus;”‘ Beliau menjawab, “Allah swt. Maha Indah dan menyukai keindahan, sombong adalah berpaling dari AI Haq dan mencemooh manusia.” (H.r. Muslim).

Anas bin Malik mengabarkan, “Rasulullah saw. suka mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, mengendarai keledai dan memenuhi undangan budak-budak. Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bani Nadhir, Rasul mengendarai seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk korma dan di atasnya diberi pelana ijuk pula. “

Khusyu’ adalah berkait kepada Allah swt, dan tawadhu’ adalah menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima hukum. Hudzaifah berkata, “Khusyu’ adalah hal yang pertama tama hilang dari agamamu.” Ketika salah scorang Sufi ditanya tentang khusyu’, ia menjawab, “Khusyu’ adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt.” Sahl bin Abdullah menegaskan, “Setan tidak akan mendekati orang yang hatinya khusyu’.” Dikatakan, “Di antara tanda tanda kekhusyu’an hati seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau ditolak, maka ia semua itu diterimanya.”

Salah seorang Sufi berkomentar, “Kekhusyu’an hati adalah menahan mata dari melirik ke sana ke mari.”

Muhammad bin Ali at Tirmidzy menjelaskan, “Khusyu’ adalah begini: jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya reda dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa nafsunya mati, sementara cahaya keagungan menyinari hatinya, sehingga syahwatnya mati, dan hatinya hidup khusyu’lah semua anggota badannya.”

Al Hasan al Bashry berkata, “Khusyu’ adalah rasa takut yang terus menerus dalam hati.”

Ketika al junayd ditanya tentang khusyu’, ia menjawab, “Khusyu’ adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu kegaiban.”

Allah swt. berfirman: “Hamba hamba Ar Rahman yaitu orang orang yang berjalan di muka bumi dengan sikap rendah hati.” (Q.s. Al Furqan: 63).

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, bahwa makna ayat ini adalah hamba hamba Allah itu berjalan di muka bumi dengan penuh khusyu’ dan tawadhu’.

Saya juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah orang orang yang tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika berjalan. Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu’ adalah di dalam hati. Ketika salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan mata yang memandang ke bawah dan bahu yang rendah, ia berkata kepadanya, “Wahai sahabat, khusyu’ itu di sini,” sambil menunjuk ke dadanya, bukan di sini,” sambil menunjuk bahunya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda: “Jika hatinya khusyu’, niscaya anggota badannya juga akan khusyu’.” (H.r. Tirmidzi).

Dikatakan, “Khusyu’ dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.

Syeikh ad-Daqqaq berkata, “Khusyu’ mirip dengan perkataan, bahwa hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah swt.” Dikatakan, “Khusyu’ adalah perasaan papa dan hina yang meresap ke dalam hati manakala menyaksikan Allah swt.”

Dikatakan pula, “Khusyu’ adalah kegentaran hati di kala hati dikuasai hakikat.”

Khusyu’ adalah mukadimah bagi luapan anugerah.

Dikatakan, “Khusyu’ adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika Kebenaran terungkapkan secara tiba-tiba.”

Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan, bahwa dirinya tidak senang melihat seseorang terlihat lebih khusyu’ daripada batinnya.

Abu Sulaiman ad-Darany berkata, “Seandainyanya semua manusia bersatu padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu mencapai kedalaman dimana aku menghinakan diriku seridiri.

Dikatakan, “Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tidak akan menghormatinya pula.”

Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah. Mujahid berkata, “Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi Nuh, gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit Judy merendahkan dirinya. Karena itu, Allah swt. menjadikannya sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as.”

Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih cepat kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.

Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz r.a. sedang menulis, lalu datanglah seorang tamu. Melihat lampu hampir padam, si tamu menawarkan diri, “Biarlah saya yang membesarkan nyalanya.” Tapi Umar menjawab, “Jangan, tidaklah ramah menjadikan tamu sebagai pelayan!” Maka si tamu lalu berkata, “Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan.” Umar menolak, “Jangan, ia baru saja pergi tidur!” Lalu beliau sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dan mengisi lampu itu. Si tamu berseru, “Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahal Amirul Mukminin?” Umar berkata kepadanya, “Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke sini masih sebagal Umar pula.”

Abu Sa’id al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu memberi makan unta unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal, menambal baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan membantunya menggiling gandum jika pelayan lelah. Beliau tidak pernah merasa malu membawa barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk keluarganya. Beliau biasa berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan lebih dahulu memberi salam jika bertemu.

Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa pun yang dihidangkan kepada beliau, sekalipun hanya berupa kurma kering. Beliau sangat sederhana dalam hal makanan, lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam sikap, baik dalam berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa tertawa, sedih tapi tidak cemberut; rendah hati tapi tidak lembek, murah hati tapi tidak boros. Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih sayang kepada setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda tanda telah makan kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus.

Fudhail bin ‘lyadh berkata, “Para ulama dari Yang Maha Pengasih memiliki sikap khusyu’ dan tawadhu’, sedangkan para ulama penguasa memiliki sikap takjub dan sombong.” Ia juga berkomentar, “Barangsiapa menganggap dirinya masih berharga, berarti tidak memiliki sifat tawadhu’ sama sekali.”

Ketika Fudhail ditanya tentang tawadhu’, ia mengajarkan, “Pasrahlah kepada kebenaran, patuhi dan terimalah ia dari siapa pun yang mengatakannya.”

Ketika al junayd ditanya tentang tawadhu’, ia menjawab, “Tawadhu’ adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka.”

Wahb berkata, “Telah tertulis dalam salah satu kitab suci, ‘Sesungguhnya Aku (Allah) mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan Aku tidak menemukan hati yang lebih tawadhu’ daripada hati Musa as. Maka Kupilih ia dan Aku berbicara langsung dengannya’.”

Ibnul Mubarak mengatakan, “Kesombongan terhadap orang kaya dan rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu’.”

Abu Yazid ditanya, “Bisakah seseorang mencapai sifat tawadhu’?.

Dijawabnya, “jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat manusia di dunia ini yang lebih buruk dari dirinya.”

Dikatakan, “Tawadhu’ adalah anugerah Allah yang tidak pernah iri dengki orang, dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belas kasihan. Kemuliaan terletak pada sikap tawadhu’, dan orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya.”

Ibrahim bin Syaiban menegaskan, “Kehormatan terletak di dalam sikap tawadhu’, kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam qana’ah.”

Abu Sa’id al Araby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang Sufyan ats-Tsaury yang berkata, ‘Ada lima macam manusia termulia di dunia: Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang kaya yang rendah hati, scorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti Sunnah.”

Yahya bin Mu’adz menegaskan, “Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikkan bagi setiap orang, tetapi ia paling menjijikkan jika terdapat pada orang yang miskin.” Ibnu Atha’ berkomentar: “Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dari siapa pun datangnya.”

Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendarai kuda, Ibnu Abbas datang mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya. Maka Zaid lalu mencegahnya, “Jangan, wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu Abbas berkata, “Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap para ulama kami.” Maka Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya, sambil berkata, “Ini adalah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw.”

Urwah bin az-Zubair menuturkan, “Ketika aku melihat Ummar bin Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi Anda.” Beliau menjawab, “Ketika para delegasi datang kepadaku, mendengarkan dan menaatiku, suatu perasaan sombong merasuk ke dalam hatiku, dan kini aku ingin menghancurkannya.” Beliau terus memikul air itu dan membawanya ke rumah seorang wanita Anshar dan mengisikannya ke dalam gentong milik wanita itu.

Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy mengabarkan, “Ketika Abu Hurairah r.a. menjabat amir di Madinah, ia pernah terlihat sedang memikul seikat kayu di atas punggungnya, dan berteriak teriak, ‘Beri jalan untuk amir’!”

Abdullah ar-Razy menjelaskan, “Tawadhu’ adalah tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan.”

Abu Sulaiman ad-Darany berkata, “Barangsiapa yang masih memberikan nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya ibadat.” Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Keangkuhan terhadap orang yang bersikap sombong terhadapmu dikarenakan kekayaannya, adalah sikap tawadhu’.”

Seorang laki-laki datang kepada asy-Syibly dan bertanyalah kepadanya, “Siapakah engkau?” ia menjawab, “Wahai tuanku, sebuah titik di bawah ba.” Lalu laki laki itu berkata, “Engkau adalah saksiku, sepanjang engkau menganggap rendah kedudukan dirimu sendiri.”

Ibnu Abbas r.a. mengatakan, “Salah satu bagian tawadhu’ adalah bahwa orang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh saudaranya.” Bisyr mengajarkan, “Berilah salam kepada para pecinta dunia dengan cara tidak memberi salam kepada mereka.”

Syu’alb bin Harb menuturkan, “Ketika aku sedang melakukan thawaf di Ka’bah, seorang buruh laki laki menyikutku, dan aku menoleh kepadanya. Ternyata orang itu adalah Fudhail bin ‘Iyadh, yang berkata, “WahaiAbu Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang melakukan ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku, maka betapa buruknya pikiranmu itu’.”

Salah seorang Sufi mengatakan, ‘Aku melihat seorang laki laki ketika sedang melakukan thawaf di Ka’bah. Ia sedang dikelilingi oleh orang orang yang menyanjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga menghalangi orang lain dari melakukan thawaf, selang beberapa waktu setelah itu aku melihat ia meminta minta kepada orang orang yang lewat di sebuah jembatan di Baghdad. Aku terkejut dan heran, ia lalu berkata kepadaku, Aku dulu membanggakan diri di tempat di mana manusia mestinya merendahkan diri, maka Allah swt. lalu menimpakan kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia berbangga diri.”

Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah seorang putranya telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu dirham. Beliau lalu menulis surat kepadanya, ‘Aku telah mendengar bahwa engkau telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham, jika surat ini telah sampai ke tanganmu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu orang miskin, selanjutnya buatlah cincin seharga dua dirham, dengan batu dari besi Cina, dan tulislah padanya, ‘Allah mengasihi orang yang mengetahui harga dirinya yang sebenarnya’.”

Dikatakan bahwa Jabir bin Hayawah berkomentar, “Ketika Umar bin Abdul Aziz sedang berkhutbah, ku taksir-taksir pakaian yang dikenakannya berharga sekitar duabelas dirham saja, yang terdiri dari jubah luar, surban, celana, sepasang sandal, dan selendang.”

Dikatakan bahwa ketika Abdullah bin Muhammad bin Wasi’ berjalan dengan lagak tak terpuji, ayahnya berkata kepadanya, “Tahukah kamu dengan harga berapa aku dulu membeli ibumu? Cuma tigaratus dirham. Dan ayahmu ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah manusia yang sepertinya di kalangan kaum Muslimin. Lantas, dengan orangtua yang semacam ini, engkau berjalan dengan lagak begitu?”

Hamdun al-Qashshar berkata, “Tawadhu’ adalah engkau tidak memandang dirimu dibutuhkan oleh siapa pun, baik di dunia ini maupun di dalam hal agama.”

Dikatakan bahwa Abu Dzar dan Bilal -semoga Allah meridhai mereka berdua- sedang bertengkar. Abu Dzar menghina Bilal karena kulitnya yang hitam. Bilal mengadu kepada Rasulullah saw, yang lalu bersabda, “Wahai ‘Abu Dzar, sungguh masih ada sifat jahiliyah dalam hatimu!”

Mendengar itu, Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjakkan kakinya pada pipinya. Ia tidak bangun-bangun sampai Bilal melakukan hal itu.

Ketika al Hasan bin Ali r.a. berjalan melewati sekelompok anak-anak yang sedang makan roti, mereka mengajaknya pula makan. Beliau pun turun dari atas kendaraan dan makan bersama mereka. Kemudian beliau membawa mereka ke rumah beliau, mengajak mereka makan, memberi mereka pakaian, dan berkata, ‘Aku berhutang budi kepada mereka sebab mereka tidak memperoleh lebih dari apa yang mereka tawarkan kepadaku, sedangkan aku memperoleh keuntungan lebih dari itu.”

***

Dari Sahabat